Duka Pelabuhan Pulai Baai Gerbang Perekonomian Bengkulu yang Digerogoti Pendangkalan Alur
Duka Pelabuhan Pulai Baai Gerbang Perekonomian Bengkulu yang Digerogoti Pendangkalan Alur, pelabuhan Pulau Baai memiliki peran strategis sebagai gerbang logistik di Bengkulu.
Namun, dengan kedalaman alur pelabuhan yang terus berkurang, kapal-kapal besar kesulitan bersandar. Banyak pihak yang mengakui, pendangkalan yang semakin parah di Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu, mengancam operasional kapal dan meningkatkan biaya logistik. Disampaikan, penanganan pendangkalan memerlukan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Pelabuhan ini berada di bawah otoritas nasional, sehingga penyelesaiannya harus melibatkan pemerintah pusat. Salah satu sektor yang terdampak adalah ekspor batu bara yang sebelumnya mencapai 10 juta ton per tahun kini hanya mampu mengirimkan 3 juta ton. Bahkan, pengangkutan harus menggunakan tongkang untuk memindahkan barang ke kapal besar di tengah laut.
Selain itu, komoditas ekspor lainnya, seperti cangkang sawit, hasil laut, dan rumput laut, juga ikut terdampak. Ketua DPC INSA Bengkulu, Rela Sumadiyana menyatakan bahwa pendangkalan dan penyempitan alur yang terjadi di Pelabuhan Pulau Baai saat ini sudah sangat miris dan merugikan para pelaku usaha serta mengancam kelangsungan hajat hidup masyarakat Bengkulu secara umum. Ia pun mengatakan bahwa telah menyampaikan permasalahan ini, baik secara tertulis maupun pertemuan dengan pihak pihak terkait sejak kurang lebih setahun yang lalu. Tapi hingga saat ini belum ada aksi nyata dari pihak yang seharusnya bertanggung jawab terkait penanganan alur tersebut.
“Sedangkan Pelabuhan Pulau Baai ini adalah merupakan obyek vital karena merupakan gerbang perekonomian, sosial, dan keamanan bagi masyarakat Bengkulu secara luas,” kata Rela. Dengan kondisi alur Pelabuhan Pulau Baai saat ini sangat berdampak langsung terhadap kerugian pelaku dunia usaha maritime terutama pihak operator kapal dikarenakan kegiatan menjadi terhambat, dimana kapal masuk dan keluar kolam pelabuhan harus menunggu air pasang tinggi dengan jam serta tenggang waktu yang sangat terbatas, belum lagi hampir setiap hari ada kapal yang kandas, sehingga banyak waktu tersita dan idle untuk proses evakuasi. Disisi lain semua kapal yang beroperasi di Pulau Baai, Bengkulu harus mengalami broken space (kapal tidak bisa muat maksimal), karena harus menyesuaikan batasan draft yang sangat tidak ekonomis. Belum lagi sering terjadi kerusakan dan kebocoran kapal atau tongkang yang diakibatkan karena mengalami kandas.

